psikologi rasa ingin tahu

cara membuat iklan yang membuat orang tidak tahan untuk mengklik

psikologi rasa ingin tahu
I

Pernahkah kita sedang sibuk bekerja, atau mungkin mencoba tidur di larut malam, lalu tiba-tiba melihat iklan dengan judul seperti: "Pria ini menemukan rahasia awet muda, dokter kulit membencinya!"? Kita tahu persis itu clickbait. Kita sadar bahwa di ujung klik itu kemungkinan besar hanya ada halaman penjualan krim abal-abal atau artikel dengan banyak iklan pop-up. Tapi ujung jari kita seolah memiliki kesadarannya sendiri. Perlahan tapi pasti, kita menekan layar sentuh itu, dan klik. Mengapa kita melakukan hal yang secara logika kita ketahui membuang-buang waktu? Apakah kita kehilangan akal sehat, atau ada sesuatu yang lebih primitif sedang membajak otak kita? Mari kita bedah bersama fenomena aneh ini.

II

Rasa ingin tahu sebenarnya adalah "kutukan" evolusi yang menyelamatkan nenek moyang kita ribuan tahun lalu. Di alam liar yang keras, mencari tahu apa yang menyebabkan semak-semak bergoyang bisa berarti menemukan buah beri yang lezat, atau justru menyelamatkan diri dari terkaman harimau tutul. Otak manusia purba kita didesain dengan sangat teliti untuk merespons misteri. Maju cepat ke tahun 1994, seorang psikolog ternama bernama George Loewenstein merumuskan sebuah konsep brilian yang ia sebut sebagai Information Gap Theory atau Teori Celah Informasi.

Bayangkan sebuah jembatan yang terputus tepat di tengah jalan. Otak kita, yang sangat mencintai pola dan kelengkapan, membenci jembatan yang terputus itu. Ketika ada celah antara apa yang saat ini kita ketahui dan apa yang ingin kita ketahui, kita mulai merasakan semacam rasa gatal secara mental. Rasa gatal ini tidak nyaman. Dan secara psikologis, satu-satunya garukan yang bisa meredakannya hanyalah dengan mencari tahu jawaban tersebut.

III

Para pembuat iklan dan ahli pemasaran digital (digital marketers) sangat memahami anatomi rasa gatal ini. Mereka bagaikan arsitek yang sengaja menciptakan lubang informasi dengan ukuran yang sangat presisi. Kalau lubang informasinya terlalu besar, kita akan bingung dan memilih tidak peduli. Kalau terlalu kecil atau mudah ditebak, kita akan bosan dan melewatinya begitu saja. Mereka memberi kita sepotong teka-teki, sebuah pemicu emosional, yang memaksa otak kita bekerja keras untuk menebak sisanya.

Namun, ada satu pertanyaan besar yang tersisa. Apa sebenarnya yang terjadi di dalam tengkorak kita saat menatap layar? Zat kimia apa yang sedang bermain-main hingga rasanya sangat menyiksa jika kita mengabaikan iklan tersebut dan terus menggulir layar ke bawah? Rahasia dari tombol klik yang tak tertahankan ini rupanya bersembunyi pada sebuah molekul kecil yang selama ini sering sekali kita salah pahami.

IV

Selamat datang di ranah kekuasaan dopamin. Selama ini, banyak dari kita, mungkin termasuk teman-teman, mengira bahwa dopamin adalah sekadar hormon kebahagiaan. Padahal sains keras membuktikan sebaliknya. Seorang ahli saraf bernama Kent Berridge melakukan penelitian panjang dan menemukan fakta mengejutkan: dopamin bukanlah molekul kesenangan atau liking (menyukai). Dopamin adalah molekul pencarian atau wanting (menginginkan).

Saat teman-teman melihat iklan yang misterius, otak langsung menyemprotkan dopamin. Zat ini tidak membuat kita bahagia melihat iklan itu, melainkan menciptakan rasa antisipasi yang begitu brutal, sampai-sampai tubuh merasakannya sebagai bentuk stres ringan. Otak kita seolah meneriakkan ancaman ilusioner: "Cari tahu sekarang, atau kamu akan menyesal seumur hidup!"

Iklan yang paling mematikan dan membuat orang tidak tahan untuk mengklik biasanya menggabungkan formula neurologis ini: mereka memicu emosi dasar seperti ketakutan atau harapan yang berlebihan, menjanjikan solusi yang sangat instan, dan yang paling penting, menahan informasi kunci tepat di titik klimaks. Itulah mengapa kalimat klise seperti "Anda tidak akan percaya apa yang terjadi selanjutnya..." secara harfiah meretas sistem motivasi dasar di otak kita.

V

Mengetahui fakta ini mungkin membuat kita merasa sedikit tidak nyaman, seolah kita hanyalah boneka yang tali-talinya ditarik dengan mudah oleh para pengiklan. Tapi mari kita lihat dari sudut pandang yang lebih berdaya. Pemahaman dan kesadaran adalah bentuk pertahanan psikologis terbaik yang kita miliki.

Lain kali, saat teman-teman merasakan dorongan impulsif yang tak tertahankan untuk mengklik sebuah judul yang sensasional, cobalah berhenti selama tiga detik. Sadarilah bahwa itu hanyalah semburan dopamin yang sedang membanjiri sirkuit otak kita. Tarik napas panjang, dan biarkan rasa gatal mental itu perlahan memudar. Kita tidak harus selalu menuruti setiap impuls yang memang sengaja dirancang untuk mencuri perhatian kita. Pada akhirnya, menjadi individu yang berpikir kritis bukan berarti kita mematikan rasa ingin tahu bawaan kita. Melainkan, kita belajar memilih dengan bijaksana, misteri mana yang memang benar-benar layak untuk kita habiskan waktu dan tenaga untuk memecahkannya.